slider slider slider

Tentang Aplikasi

Direktorat Jenderal Bina Konstruksi (DJBK) adalah unit organisasi yang ditunjuk Menteri PUPR sebagai simpul KPBU PUPR. Simpul KPBU memiliki fungsi penyiapan kebijakan, fasilitasi dan koordinasi, sinkronisasi, serta evaluasi penyelenggaraan KPBU di Kementerian PUPR. Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik, DJBK melalui Direktorat Bina Investasi Infrastruktur mengembangkan Layanan Informasi dan konsultasi Investasi Infrastruktur Bidang PUPR (LINTAS PUPR).

LINTAS PUPR merupakan inovasi layanan publik berbasis web, yang memberikan kemudahanan masyarakat dalam mengakses data dan informasi serta konsultasi tentang investasi infrastruktur bidang pekerjaan umum dan perumahan rakyat.

Layanan Aplikasi

Layanan Konsultasi Pengetahuan

Memberikan layanan pengetahuan investasi infrastruktur meliputi : (a) artikel atau jurnal serta hasil-hasil riset dan pengembangan bidang investasi infrastruktur lainnya; (b) NSPK dan profil terkait investasi infrastruktur yang diterbitkan oleh Unit Internal; (c) NSPK dan profil terkait investasi infrastruktur yang diterbitkan oleh kementerian/lembaga lain; (d) Pedoman, referensi, data-data terkait investasi yang diterbitkan PT.SMI, PT. PII, lembaga keuangan, lembaga internasional dan lembaga terkait lainnya.

Layanan Konsultasi Proyek

Memberikan layanan konsultasi proyek investasi infrastruktur meliputi: (a) informasi data proyek investasi infrastruktur PUPR terkini (b) publikasi data proyek investasi infrastruktur PUPR; dan (c) konsultasi langsung perihal proyek investasi investasi infrastruktur PUPR.

Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU)

Keterbatasan APBN dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur yang ditetapkan dalam RPJMN 2015-2019 menyebabkan adanya selisih pendanaan (funding gap) yang harus dipenuhi. Untuk mengatasi itu, Pemerintah dituntut untuk menggunakan beberpa alternatif pendanaan, salah satunya mengunakan skema kerjasama pembangunan yang melibatkan pihak swasta atau dikenal sebagai Public Private Partnership (PPP). Tidak ada definisi resmi mengenai PPP, namun dapat disimpulkan bahwa PPP merupakan bentuk perjanjian antara sektor publik (Pemerintah) dengan sektor privat (Swasta) untuk mengadakan sarana layanan publik yang diikat dengan perjanjian, terbagi menjadi beberapa bentuk tergantung kontrak dan pembagian resiko.

Di Indonesia PPP dikenal sebagai Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), KPBU didefinisikan sebagai kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur bertujuan untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/BUMN/BUMD, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko diantara para pihak. Kerjasama Pemerintah dengan swasta sebenarnya telah dikenal sejak masa Orde Baru seperti pada jalan tol dan ketenagalistrikan, namun mulai dikembangkan tahun 1998 pasca krisis moneter. Setelah didahului dengan beberapa peraturan pendukung KPBU, maka untuk menyesuaikan PPP terkini dunia, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.

KPBU dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu perencanaan, penyiapan, dan transaksi. Pada tahap perencanaan Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/direksi BUMN/BUMD meyusun rencana anggaran dana, Identifikasi, pengambilan keputusan, penyusunan Daftar Rencana KPBU. Output tahap perencanaan adalah daftar prioritas proyek dan dokumen studi pendahuluan yang disampaikan pada Kementerian PPN/BAPPENAS untuk disusun sebagai Daftar Rencana KPBU yang terdiri atas KPBU siap ditawarkan dan KPBU dalam proses penyiapan. Selanjutnya dalam tahap penyiapan KPBU Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah/direksi BUMN/BUMD selaku Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) dibantu Badan Penyiapan dan disertai konsultasi Publik, menghasilkan prastudi kelayakan, rencana dukungan Pemerintah dan Jaminan Pemerintah, penetapan tata cara pengembalian investasi Badan Usaha Pelaksana, dan pengadaan tanah untuk KPBU.Tahap transaksi dilakukan oleh PJPK dan terdiri atas penjajakan minat pasar, penetapan lokasi, pengadaan Badan Usaha Pelaksana dan melaksanakan pengadaannya, penandatanganan perjanjian, dan pemenuhan biaya.

Testimoni